Terbanglah Cinta
Untuk seseorang yang sulit kubaca,
Harus ku mulai dari mana lagi. Aku sudah lelah. Menjadi penguntitmu diam-diam. Membaca semua sajak yang tak begitu ku pahami. Atau tak sengaja membaca sajakmu yang muncul di berandaku. Ini sangat melelahkan. Sajak yang (kurasa) sengaja kau tulis. Entah itu dari hatimu atau hanya dari pemikiranmu saja. Ku kira, kau masih menggunakan hatimu untuk menulis itu. Iya. Itu hanya perasaanku saja.
Jujur, aku sulit membacamu. Membaca gerak-gerik mu, membaca semua tulisan-tulisan yang kau lebih-lebihkan itu.
Sayang, memaki orang lain itu lebih mudah dibanding memaki diri sendiri. Menceritakan orang lain itu lebih mengasyikan dibanding menceritakan diri sendiri. Membaca tingkah seseorang lebih mudah dibanding membaca diri sendiri. Sama sepertiku. Aku lebih mudah membaca orang lain dibanding membaca diriku sendiri. Tapi, kamu tidak. Aku sulit membacamu. Bahkan, ketika logikaku mulai menelisik lebih jauh dan berpikir bahwa setiap tulisanmu itu bukan tentang aku, tapi perasaanku? Dia menentang dengan tegas. Apakah ini terlalu berlebihan ketika aku mulai menjentikkan jemariku menari diatas keyboard notebook-ku subuh-subuh seperti ini? Apakah ini terlalu berlebihan ketika aku mulai menulis lagi (tentang kamu)? Apakah ini terlalu menyedihkan? Apakah ini terlalu tak masuk akal? haha.. jika memang iya, lalu kau bagaimana? Sama saja.
Ketika kamu membaca tulisan pendek pagi hariku ini, aku menulisnya ketika sedang meringkuk telungkup dalam selimut. Menghindari dingin. Lucu bukan?
Hujan mengguyur semalaman, dan aku benci itu. Aku benci hujan, aku benci mendengar peluru-peluru kecil itu memburu di atap rumahku. Bising. Sungguh mengusikku. Oh iya, bukankah kamu (sudah) tahu bahwa aku membenci hujan? Maaf aku memberitahumu lagi, karna kukira kamu sudah melupakan apa yang (pernah) ku beritahu. Haha sangat lucu.
Dulu, rasa benciku pada hujan tak memuncak seperti sekarang. Karena benda itu, membuat imajinasiku menerawang tentang kamu-tentang aku-dan tentang kita. Seperti novel, tentang hujan. Bukankah itu hal bodoh? haha iya itu dulu. Ketika jarak belum melaksanakan tugasnya; seperti sekarang. Tak memberi kesempatan pada kita untuk saling menatap, tertawa, dan dalam kebimbangan yang sama.
Di ponsel disamping notebook-ku, kadang aku berharap ada sepucuk pesan darimu, memberitahuku bahwa kamu baik-baik saja, atau menanyakan apakah aku baik-baik saja. Aku sering menertawai halusiku sendiri. Itu sangat konyol.
Sekarang ada seseorang yang mulai merekahkan simpulan senyumku (lagi) aku berharap bahwa itu kamu. Bodoh bukan?
Tapi, bagaimana denganmu? Dewasalah, Sayang. Bisakah kamu membedakannya? Tulus dan tidak tulus? Memberi dengan hati bukan hanya dengan logika. Bukankah kamu sendiri pernah berkata seperti itu?
Bisa membacamu (kala itu) meski hanya sedikit, aku rasa bahwa aku sendiri pun tau maksud dibalik ribuan sajakmu.
Mm.. setidaknya bisakah kamu memberitahuku? Masih adakah cinta? Masih adakah rasa? Masih ada rindu? Masih adakah tawa?
Tapi tenang, aku tak berharap lebih. Cukup aku menafsirkan itu sendiri, berperang dengan hati dan sepi. Dan ketika aku menemukan jawaban itu, kurasa itu hanya trik dan tipuan; sama seperti sulapmu.
Sabtu malam, rintikan hujan menghujam tubuhku. Sakit. haha kurasa ini sangat berlebihan.
Dingin, menusuk sendi-sendiku. Tapi aku baik-baik saja. Ini bahkan tak lebih sakit ketika aku berperang dalam sepi, tentang tulisanmu-tentang perasaanku.
Aku selalu bersembunyi dari hujan, tapi kemarin, aku menantang hujan. haha bahkan aku tak merasakan jika air mataku pun ikut melebur. Tapi aku senang. Aku tersenyum. Bukankah membuat oranglain bisa tersenyum adalah hal terindah? Dan aku, merasa telah memberi hal terindah pada diriku sendiri.
haha konyol bukan? Seperti anak kecil yang sedang bermain air.
Tapi, aku tak bisa melihat senyumku sendiri. Aku butuh cermin, yang kurasa cermin itu tak ada disini (lagi). Apakah masih berlaku, ketika kita tersenyum, bisa membuat kebahagiaan untuk oranglain? Setidaknya aku lega bisa membuat simpulan senyum dibibirku sendiri, dan merasakan kebahagiaan untukku sendiri.
Sayang, aku ingin terbang sepertimu. Terbang bebas kala bayangmu mulai mengusikku lagi. Tapi, apakah kepakan sayapmu telah menuntunmu pada angsa yang lebih hebat dariku?
Ada dua pilihan, kau memilih kembali, maka kembalilah. Tapi, aku sendiri tak tahu dengan keputusanku ketika saat itu (benar-benar) tiba. Jika tidak, maka kepakan sayapmu lagi dan lagi. Liukkan tubuhmu dan lihatlah dengan hati, jangan logika.
Jujur, aku ingin terbang sama sepertimu Dan.... kini aku sudah mulai terbang. Terbang jauh. Menari dengan indah memijak kapas putih atmosfer. Melompat tinggi dan lebih tinggi. Tapi aku rapuh, aku jatuh lagi. Karena sayap-sayapku telah kau patahkan. Meringkuk diri sendiri dalam diam. Itu selalu kulakukan ketika kebimbangan ini mengusikku (lagi). Aku berdiri dan mulai terbang lagi, dan lihatlah, kini aku terbang meski tertatih dalam pejaman mata.
Aku merasakan sentuhan itu, aku membuka mataku, dan... dia membantuku terbang. Bukankah sangat lucu? Seorang itik buruk rupa kehilangan separuh sayapnya?
Apa kau masih ingat tentang dongeng itik buruk rupa yang ternyata dia adalah sejenis angsa? :D kurasa itu sama sepertiku.
Tapi bedanya, aku masih terjerat oleh cintamu. Maaf akan ku ralat, bukan tentang cinta tapi tentang risalah. Iya. Aku masih terjerat dalam keadaan yang tak pantas (lagi) ku sebut dengan cinta, karena aku sendiri pun tak tahu bagaimana kata hatimu yang sebenarnya. Jadi, izinkan aku menyebutnya dengan sebutan yang aku sendiri pun tak tahu. Tapi tenang, Sayang. Mulai sekarang, aku tak lagi menyebutnya dengan rasa, suka, rindu, duka, tawa, bahkan cinta. Aku akan menyebutnya dalam keadaan yang aku sendiri pun tak tahu. Sederhana bukan?
Dari gadis yang seringkali meracau batinnya sendiri
Harus ku mulai dari mana lagi. Aku sudah lelah. Menjadi penguntitmu diam-diam. Membaca semua sajak yang tak begitu ku pahami. Atau tak sengaja membaca sajakmu yang muncul di berandaku. Ini sangat melelahkan. Sajak yang (kurasa) sengaja kau tulis. Entah itu dari hatimu atau hanya dari pemikiranmu saja. Ku kira, kau masih menggunakan hatimu untuk menulis itu. Iya. Itu hanya perasaanku saja.
Jujur, aku sulit membacamu. Membaca gerak-gerik mu, membaca semua tulisan-tulisan yang kau lebih-lebihkan itu.
Sayang, memaki orang lain itu lebih mudah dibanding memaki diri sendiri. Menceritakan orang lain itu lebih mengasyikan dibanding menceritakan diri sendiri. Membaca tingkah seseorang lebih mudah dibanding membaca diri sendiri. Sama sepertiku. Aku lebih mudah membaca orang lain dibanding membaca diriku sendiri. Tapi, kamu tidak. Aku sulit membacamu. Bahkan, ketika logikaku mulai menelisik lebih jauh dan berpikir bahwa setiap tulisanmu itu bukan tentang aku, tapi perasaanku? Dia menentang dengan tegas. Apakah ini terlalu berlebihan ketika aku mulai menjentikkan jemariku menari diatas keyboard notebook-ku subuh-subuh seperti ini? Apakah ini terlalu berlebihan ketika aku mulai menulis lagi (tentang kamu)? Apakah ini terlalu menyedihkan? Apakah ini terlalu tak masuk akal? haha.. jika memang iya, lalu kau bagaimana? Sama saja.
Ketika kamu membaca tulisan pendek pagi hariku ini, aku menulisnya ketika sedang meringkuk telungkup dalam selimut. Menghindari dingin. Lucu bukan?
Hujan mengguyur semalaman, dan aku benci itu. Aku benci hujan, aku benci mendengar peluru-peluru kecil itu memburu di atap rumahku. Bising. Sungguh mengusikku. Oh iya, bukankah kamu (sudah) tahu bahwa aku membenci hujan? Maaf aku memberitahumu lagi, karna kukira kamu sudah melupakan apa yang (pernah) ku beritahu. Haha sangat lucu.
Dulu, rasa benciku pada hujan tak memuncak seperti sekarang. Karena benda itu, membuat imajinasiku menerawang tentang kamu-tentang aku-dan tentang kita. Seperti novel, tentang hujan. Bukankah itu hal bodoh? haha iya itu dulu. Ketika jarak belum melaksanakan tugasnya; seperti sekarang. Tak memberi kesempatan pada kita untuk saling menatap, tertawa, dan dalam kebimbangan yang sama.
Di ponsel disamping notebook-ku, kadang aku berharap ada sepucuk pesan darimu, memberitahuku bahwa kamu baik-baik saja, atau menanyakan apakah aku baik-baik saja. Aku sering menertawai halusiku sendiri. Itu sangat konyol.
Sekarang ada seseorang yang mulai merekahkan simpulan senyumku (lagi) aku berharap bahwa itu kamu. Bodoh bukan?
Tapi, bagaimana denganmu? Dewasalah, Sayang. Bisakah kamu membedakannya? Tulus dan tidak tulus? Memberi dengan hati bukan hanya dengan logika. Bukankah kamu sendiri pernah berkata seperti itu?
Bisa membacamu (kala itu) meski hanya sedikit, aku rasa bahwa aku sendiri pun tau maksud dibalik ribuan sajakmu.
Mm.. setidaknya bisakah kamu memberitahuku? Masih adakah cinta? Masih adakah rasa? Masih ada rindu? Masih adakah tawa?
Tapi tenang, aku tak berharap lebih. Cukup aku menafsirkan itu sendiri, berperang dengan hati dan sepi. Dan ketika aku menemukan jawaban itu, kurasa itu hanya trik dan tipuan; sama seperti sulapmu.
Sabtu malam, rintikan hujan menghujam tubuhku. Sakit. haha kurasa ini sangat berlebihan.
Dingin, menusuk sendi-sendiku. Tapi aku baik-baik saja. Ini bahkan tak lebih sakit ketika aku berperang dalam sepi, tentang tulisanmu-tentang perasaanku.
Aku selalu bersembunyi dari hujan, tapi kemarin, aku menantang hujan. haha bahkan aku tak merasakan jika air mataku pun ikut melebur. Tapi aku senang. Aku tersenyum. Bukankah membuat oranglain bisa tersenyum adalah hal terindah? Dan aku, merasa telah memberi hal terindah pada diriku sendiri.
haha konyol bukan? Seperti anak kecil yang sedang bermain air.
Tapi, aku tak bisa melihat senyumku sendiri. Aku butuh cermin, yang kurasa cermin itu tak ada disini (lagi). Apakah masih berlaku, ketika kita tersenyum, bisa membuat kebahagiaan untuk oranglain? Setidaknya aku lega bisa membuat simpulan senyum dibibirku sendiri, dan merasakan kebahagiaan untukku sendiri.
Sayang, aku ingin terbang sepertimu. Terbang bebas kala bayangmu mulai mengusikku lagi. Tapi, apakah kepakan sayapmu telah menuntunmu pada angsa yang lebih hebat dariku?
Ada dua pilihan, kau memilih kembali, maka kembalilah. Tapi, aku sendiri tak tahu dengan keputusanku ketika saat itu (benar-benar) tiba. Jika tidak, maka kepakan sayapmu lagi dan lagi. Liukkan tubuhmu dan lihatlah dengan hati, jangan logika.
Jujur, aku ingin terbang sama sepertimu Dan.... kini aku sudah mulai terbang. Terbang jauh. Menari dengan indah memijak kapas putih atmosfer. Melompat tinggi dan lebih tinggi. Tapi aku rapuh, aku jatuh lagi. Karena sayap-sayapku telah kau patahkan. Meringkuk diri sendiri dalam diam. Itu selalu kulakukan ketika kebimbangan ini mengusikku (lagi). Aku berdiri dan mulai terbang lagi, dan lihatlah, kini aku terbang meski tertatih dalam pejaman mata.
Aku merasakan sentuhan itu, aku membuka mataku, dan... dia membantuku terbang. Bukankah sangat lucu? Seorang itik buruk rupa kehilangan separuh sayapnya?
Apa kau masih ingat tentang dongeng itik buruk rupa yang ternyata dia adalah sejenis angsa? :D kurasa itu sama sepertiku.
Tapi bedanya, aku masih terjerat oleh cintamu. Maaf akan ku ralat, bukan tentang cinta tapi tentang risalah. Iya. Aku masih terjerat dalam keadaan yang tak pantas (lagi) ku sebut dengan cinta, karena aku sendiri pun tak tahu bagaimana kata hatimu yang sebenarnya. Jadi, izinkan aku menyebutnya dengan sebutan yang aku sendiri pun tak tahu. Tapi tenang, Sayang. Mulai sekarang, aku tak lagi menyebutnya dengan rasa, suka, rindu, duka, tawa, bahkan cinta. Aku akan menyebutnya dalam keadaan yang aku sendiri pun tak tahu. Sederhana bukan?
Dari gadis yang seringkali meracau batinnya sendiri
Komentar
Posting Komentar