Musik Keroncong Nusantara
Keroncong adalah sejenis musik
nusantara yang memiliki hubungan historis dengan sejenis musik Portugis yang
dikenal sebagai Fado.
Ø
Keroncong bermula di Pulau Jawa pada abad ke-16 ketika pengaruh Portugis mulai bertapak di kawasan Tenggara
Asia.
Ø
Keroncong yang dimainkan para budak dan opsir Portugis dari daratan India
(Goa) serta Maluku disebut moresco.
Ø
Dalam
perkembangannya, pada sekitar abad ke-19 masuk sejumlah unsur tradisional
Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan, bentuk
musik campuran ini sudah populer di banyak tempat di Nusantara. Masa keemasan
ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat
masuknya gelombang musik popular
Ø Dalam bentuknya yang paling awal, moresco (awal mula musik
keroncong) diiringi oleh musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo.
Ø Pem-"pribumi"-an keroncong menjadikannya seni campuran,
dengan alat musik seperti :
o Sitar India
o rebab
o Suling bambu
o Gendang, kenong, dan saron sebagai satu set Gamelan.
Saat ini, alat
musik yang dipakai dalam orkes keroncong mencakup:
o Ukulele cuk, berdawai 3 (nilon), urutan nadanya adalah
G, B dan E; sebagai alat musik utama yang menyuarakan crong - crong
sehingga disebut keroncong (ditemukan tahun 1879 di Hawai, dan merupakan awal
tonggak mulainya musik keroncong)
o
Ukulele cak, berdawai 4 (baja),
urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan
tangga nada C, cak bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan in F);
o
Selo; betot (menggantikan kendang ),
o
Kontrabass (menggantikan Gong).
o
Gitar akustik sebagai gitar melodi,
dimainkan dengan gaya kontrapuntis (anti melodi);
o
Biola
(menggantikan Rebab);
o
Flute
(mengantikan Suling Bambu), pada Era Tempo Doeloe memakai Suling
Albert (suling kayu hitam dengan lubang dan klep, suara agak patah-patah,
contoh orkes Lief Java), sedangkan pada Era Keroncong Abadi telah
memakai Suling Bohm (suling metal semua dengan klep, suara lebih halus
dengan ornamen nada yang indah, contoh flutis Sunarno dari Solo atau Beny
Waluyo dari Jakarta);
Jenis-jenis keroncong
Ò Keroncong asli
Keroncong
asli memiliki bentuk lagu A – B – C. Kebanyakan dibawakan sebanyak dua kuplet
utuh (dari atas). Alur akordnya seperti tersusun di bawah
ini: | I , , , | I , , , | v , , , | V
, , , | II , , , | II , , , | V , , , | V , , , | V , , , | V , , , | |
IV , , ,| IV , , ,|IV , , , | V , , , | I , , , | I , , , | V , , , | V , , , |
I , , , | IV , V , | | I , , , |
IV , V , | I , , ,| I , , , | V , , , | V , , , | I , , ,| Keroncong asli
terkadang juga di awali oleh prospel terlebih dahulu. Prospel
adalah seperti intro yang mengarah ke nada/akord awal lagu, yang dilakukan oleh
alat musik melodi seperti seruling/flut, biola, atau gitar.
Ò Langgam
Bentuk
lagu langgam ada dua versi. Yang pertama A – A – B – A dengan pengulangan dari
bagian A kedua. Beda sedikit pada versi kedua, yakni pengulangannya langsung
pada bagian B. Meski sudah memiliki bentuk baku, namun pada
perkembangannya irama ini lebih bebas diekspresikan. Penyanyi serba bisa Hetty
Koes Endang misalnya, dia sering merekam lagu-lagu non keroncong dan langgam
menggunakan irama yang sama, dan kebanyakan tetap dinamakan langgam. Alur
akord-nya sebagai berikut: | I , , , |
IV , V , | I , , , | I , , , | V , , , | I , , , | I , , ,
| | I , , , | IV , V , | I , , ,
| I , , , | V , , , | I , , , | I , , ,
| |IV , , , | IV , V , | I , , ,
| I , , , | II , , , | II , , , | V , , ,| V , , ,| |
I , , , | IV , V , | I , , , | I , , , | V , , , | I , , , | I , , , | Bentuk
adaptasi keroncong terhadap tradisi musik gamelan dikenal sebagai langgam
Jawa, yang berbeda dari langgam yang dimaksud di sini. Langgam Jawa
memiliki ciri khusus pada penambahan instrumen antara lain siter, kendang (bisa
diwakili dengan modifikasi permainan cello ala kendang), saron, dan
adanya bawa atau suluk berupa introduksi
vokal tanpa instrumen untuk membuka sebelum irama dimulai secara utuh.
Ò Stambul
Stambul merupakan
jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara yang dikenal pada
akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di Indonesia dengan namaKomedi
stambul. Nama “stambul” diambil dari Istambul di Turki.
Stambul memiliki dua tipe progresi akord yang masing-masing disebut sebagai
Stambul I dan Stambul II. Stambul diawali oleh penyanyi itu sendiri, atau intro
lagu bukan dari alat musik melainkan dari penyanyi tanpa iringan instrumen
terlebih dahulu.
- Gesang
- Hetty Koes Endang
- Mus Mulyadi
- Waljinah
- Sundari Soekotjo







Komentar
Posting Komentar