No Other
|
NO
OTHER
|
Langkah
kakiku gontai memasuki gedung tua ini. Bentuk dan ruangannya masih sama seperti
tiga tahun lalu. Pintu gerbang, halaman, tiang bendera, ruang guru, dan ruang
kelas. Semua lebih hidup, dengan warna cat yang baru. Kuhentikan kakiku dan
berhenti sejenak di ambang pintu ruang kelas. Sudut mataku menangkap bangku
kedua dari belakang. Mengingatkanku pada memori yang (hampir) kuhapus dari
ingatanku. Jantungku berdebar, kurasa pipiku memanas, dan pandanganku mulai
kabur. Butiran-butiran bening ini berhasil meluncur bebas dari pelupuk mataku.
Aku menundukkan kepala, memejamkan mata dan menggenggam gantungan kunci yang
tergantung di tasku. Apakah aku merindukanmu, sayang?
“Hei”
Aku
membuka mata dan segera kuseka air mataku. Menoleh ke asal suara itu. Lambaian
tangan itu menuntunku. Tatapan matanya masih sama. Tajam tapi begitu
meneduhkan. Senyumnya yang tiga tahun lalu tak pernah kulihat, berhasil membuat
jantungku memompa darah lebih cepat. Kurasa aku benar-benar merindukanmu.
“Apa
kabar, Bel?”
Suara
itu masih terdengar sama, tetapi lebih berat dari tiga tahun yang lalu. “Baik, dan
kau?”
“Seperti
yang kaulihat. Oh iya masih kausimpan ternyata.”
“Apa?”
Dia
menunjuk gantungan kunciku.
“Oh”
Aku melepas gantungan panda yang tergantung di tasku. Menerbangkannya di depan
wajahku. “Sesuatu yang kecil tentang secuil kisah tiga tahun yang lalu.” Kataku
lirih.
“Maksudmu?”
Aku
menoleh ke arahnya. Menggeleng dan mengaitkannya ke tempat semula.
“Kutinggal
sebentar ya, Bel.”
Aku
menganggukkan kepala. Kulihat punggungnya berlalu ke seberang, berbincang
renyah dengan telepon genggamnya. Senyumnya mengembang lebih indah dari yang kulihat
dulu. Aku suka saat-saat seperti ini. Menatapnya dalam kejauhan. Dalam diam.
Orang-orang
berlalu-lalang menuju aula sekolah. Senyum dan pelukan mereka tampak hangat
menyambut teman-temannya. Deby, menyambut tamu dan membuka acara reuni ini.
Acara berlangsung, aku masih saja berdiri di ambang pintu aula, sendiri.
Menunggu seseorang yang sangat ingin kulihat, kupeluk, dan kusapa. Aku
merindukanmu, teman.
Kualihkan
mataku ke seberang. Tapi, dia tak ada di sana. Kuedarkan pandanganku ke segala
arah. Nihil. Haris tak ada di tempatnya saat ia sedang menerima telepon. Kulihat
di segerombolan orang, tapi tetap tak kutemui. Aku menyesal mengalihkan
pandanganku dari Beni
untuk mencari sahabatku. Keduanya nihil. Sama-sama tak kutemui.
Aku
duduk di salah satu bangku di belakang. Melihat oraang-orang memadati aula. Mereka
kini berubah, tak seperti tiga tahun yang lalu.
“Isabel?”
Aku
menoleh ke kanan, merasa seseorang memanggil namaku. Terlihat sosok cantik,
berkulit sawo matang dan bermata hitam. Aku mencoba mengingat sosok itu.
“Sekarang
kau pakai kacamata?”
“Oh
Sica.” Aku memeluk tubuh
kecilnya.
Dia
tertawa di balik kepalaku. “Kukira kaulupa denganku.”
“Hampir.
Kau hampir membuatku tak
mengenalimu, dengan pakaian feminime
seperti ini.” Aku tertawa kecil.
Sica merenggangkan
pelukanku. “Bukankah, gadis yang berusia 17 tahun harus terlihat feminime?”
Aku
mencubit pipinya. “Tapi tidak denganmu yang dulu. Dulu kau sangat tomboy. Tapi
sekarang.. apakah ada seseorang yang telah berhasil membuatmu menjadi seperti
ini?”
Sica tertawa renyah. “Kau
mengejekku!”
Aku
tertawa melihat ekspresi wajahnya berubah menjadi serius.
“Kautahu?
Aku berubah menjadi feminime seperti ini, berharap ada laki-laki yang
melirikku.” Sica
mengerlingkan matanya dan kami tertawa bersama.
Sica, dia sahabatku. Salah
satu dari ketiga sahabatku. Kita selalu bersama, tertawa, makan, belajar,
bermain, dan menggosip bersama. Tepatnya, tiga tahun yang lalu.
“Oh
iya Bel, Lihatlah Deby. Dia berubah.
Ku kira, hanya aku saja yang berubah, ternyata dia nekad merubah style-nya menjadi tomboy.”
“Mungkin
karena dia bosan menjadi gadis
yang menarik.”
“Bisa
jadi.”
“Mm..
apa kausudah melihat Intan?”
Sica menoleh ke arahku dan
menatapku tajam. “Aku sering bertemu dengannya di sekolah. Apa kautahu? Kita
satu sekolah lagi.”
“Benarkah?
Bagaimana dia sekarang?”
“Masih
terlihat berkilau, menarik dan cantik.”
“Apa
kalian sering makan bersama di kantin,
pulang bersama,
atau belajar bersama?”
“Tidak
sempat. Hanya bertemu atau berpapasan saja di koridor. Tak lebih. Ketika
pulang, dia selalu di jemput.”
“Ayahnya?”
“Bukan.
Beni.”
Mendengar
nama itu membuat dadaku
sesak. Seperti terhantam ke tembok dan tertusuk samurai. Meyakinkan pada diriku
sendiri, jika mereka tak ada sesuatu. Tapi, aku tak bisa, ketika mendengar
penjelasan Sica
bahwa ‘Mereka berpacaran’. Kurasakan butiran bening ini siap terjun bebas
membuat sungai kecil di pipiku. Aku mengalihkan pandanganku keluar agar Sica tak melihat bahwa
mataku terpenuhi air yang siap tumpah.
Air
mataku meluncur bebas ketika mataku menangkap sosok yang kucari dan sosok yang
ingin kutemui. Mereka berjalan bergandengan tangan dari ambang pintu. Sakit.
Sesak. Aku menghapus air mataku; tapi malah semakin deras membasahi pipiku. Aku
tak tahan melihat pemandangan yang
seharusnya tak ingin kulihat. Seharusnya aku tak di sini. Aku berjalan cepat
keluar dari aula. Kurasakan ada hantaman di pundakku.
“Isabel?”
Aku
menoleh ke asal suara itu dan berlalu. Aku mengenali suara itu. Bahkan sangat
mengenali sosok itu. Sosok yang kunanti untuk kusambut dengan senyum terindah
dan pelukan hangat; malah kuhantam dengan pundak. Aku tak menyesal melakukan
itu. Tapi aku menyesal datang ke acara reuni ini.
Tiga
hari yang lalu setelah reuni, aku masih membenci diriku sendiri. Seharusnya aku
tak pergi bergitu saja hanya karena aku belum bisa menerima kenyataan bahwa
orang yang kusayang bersama sahabatku. Bukankah seharusnya aku memberikan
selamat dan tersenyum pada mereka. Meski senyum kecut, tapi itu lebih baik dari
pada tatapan sinis. Aku tak membenci mereka. Aku sangat senang bertemu dengan Beni. Aku senang bertemu
dengan Deby, Sica,
dan Intan; sahabatku. Tapi bukan dengan cara yang seperti ini.
Aku
sengaja mematikan telepon genggamku sejak kepergianku dari acara reuni itu,
Intan selalu mengirimiku pesan untuk menjelaskan kisah ini, kadang pula
meneleponku. Aku tak seharusnya bersikap seperti ini. Ini seperti anak kecil.
Duduk
santai di salah satu warung susu adalah hal yang selalu kulakukan ketika aku
merasa sendiri. Mengaduk-aduk es susu cookiesku
dan melihat ke bangku seberang. Aku rasa, saat ini aku hanya membawa setengah
nyawa dalam ragaku. Dadaku sesak. Aku tahu, ini hanya kebetulan. Tapi kebetulan
yang sangat menyedihkan. Membiarkan air mata ini membasahi pipiku tanpa
bergerak sedikit untuk menghapusnya. Apa yang kulakukan sekarang? Aku tidak
tahu. Hanya menatap ke meja seberang, pada dua orang yang sedang bercanda ria.
Aku mengahapus air mataku ketika aku menyadari orang yang kulihat di meja
seberang tengah berjalan ke mejaku; dan sekarang duduk di hadapanku.
“Isabel. Aku minta maaf.”
“Sudahlah.
Lupakan saja!”
“Isabel” Intan menggenggam
tanganku. “Are you okay?”
“Kaulihat?
Aku baik-baik saja. Pergilah. Dia sedang menunggumu di sana.”
“Terima
kasih.” Ucapnya dan berdiri. Kutundukkan kepalaku, menatap es susu cookies yang sedari tadi belum kusentuh. Aku mendongakkan
kepala saat kurasakan ada sentuhan hangat merengkuh tubuhku, dan air mataku
berhasil keluar dari pelupuk mataku.
“Kita
masih berteman, kan?” Aku menyeka air mataku dan mengiyakan. Intan melepas
pelukannya dan berjalan ke mejanya. Mereka melambaikan tangan ke arahku. Kutatap
punggung kedua sosok itu berjalan keluar dan berlalu dengan sepeda motor bebek Beni.
Aku
tahu, ini bukan salah Intan. Bukan juga Beni.
Tapi ini juga bukan salahku. Lantas, salah siapa ini? Kurasa tak ada yang
salah. Ini adalah jentikan jemari Tuhan yang menulis lembar kehidupan manusia.
Mungkin
saat ini, hanya ada penyesalan karena aku tak mengatakan perasaanku pada Beni. Aku tak bisa mengatakan
yang sebenarnya padanya, jika kutahu pada akhirnya Beni akan memilih Intan.
Aku tak akan menyalahkan nasib, takdir, atau juga alur kehidupanku. Toh semua
orang memiliki hak yang sama atas perasaannya, memilih dan dipilih. Meski berulang
kali bibirku mengucapkan ‘aku baik-baik saja’ tapi itu munafik. Aku tak bisa
menyembunyikan jika ‘aku tidak sedang baik-baik saja’.
Mungkin
sekarang Beni
tak memilihku, tapi besok? Lusa? Minggu depan? Bulan depan? Atau Tahun depan?
Aku tidak tahu. Karena yang kutahu, aku (masih) mengharapkannya; menunggu
ketidakpastian. Apakah salah? Tidak. Karena ini tentang perasaan. Dan bila di
hitung dari pertama kali aku menyukainya, sampai saat ini sudah lebih dari tiga
tahun. Bukan waktu yang singkat, bukan? Aku akan menunggu, sampai dia menatapku, tersenyum padaku, dan menggenggam
tanganku bukan sebagai teman. Dan mungkin saat itu aku akan mengatakan ‘jangan
pergi lagi’ dan memeluknya hangat.
Aku
menertawakan halusinasiku dan mungkin, aku masih sanggup menantinya. Aku sebenarnya
sudah lelah bila aku harus menunggunya lebih lama lagi. Sedangkan dia tak
pernah menyadari itu. Biarkan aku mengaguminnya, menyayanginya, dan mencintainya dalam
diam. Atau, mungkin jika aku sudah benar-benar lelah menunggunya. Aku akan
mengatakan persaanku tentang secuil kisah tiga tahun yang lalu. Mungkin....

Komentar
Posting Komentar