Flashback

mm.. sekarang saya mau menulis untuk pertama kali.
Temanya tentang panggung sandiwara. Kenapa? karena saya akan menceritakan pengalaman saya di panggung sandiwara.
Yap. Saya adalah anggota teater di sekolah. Tepatnya sekarang telah menjabat sebagai sekretaris dan sedang menunggu pelengseran jabatan saya ketika di sekolah telah membuka pendaftaran murid baru dan menunggu pemilu di adakan. :D

Menjadi anggota teater sebenarnya adalah harapan saya sejak saya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Awal mulanya, guru saya pak Rusgiyanto memberi tugas kelompok bahasa indonesia untuk bermain peran. Seperti drama memang, tapi waktu itu saya tidak tahu bagaimana cara memainkan drama. Yang saya tahu, bermain drama hanya memainkan ekspresi dan gerak, tak lebih.
Sejak tugas kelompok itu, saya memainkan diri saya di depan kelas bersama teman-teman. Saya masih menggunakan cara orang awam untuk memainkan drama. Saat itu, pak Rus berkata pada saya, "Ndah, kamu sebenarnya memiliki potensi besar di dunia akting. Pokoknya besok di sekolah menengah atas, kamu harus ikut ekstra teater." Kata Pak Rus masih saya rekam dengan jelas.

Kelulusan sekolah. Saya langsung mendaftarkan diri masuk di salah satu sekolah menengah kejuruan di yogyakarta. Tujuan utama saya waktu itu adalah sekolah di tempat yang ibu saya suruh. Jadi, saya ngikut kata ibu. 3 hari MOS berjalan monoton. Pasti setiap tahun kegiatan MOS hanya seperti itu. Bedanya, hanya anggota OSIS dan Para peserta didik baru.
Para wali kelas memperkenalkan diri dan selanjutnya membagi lembar kertas yang isinya kesediaan para siswa untuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler.
Dalam kertas itu, ekskul yang tertera adalah PMR, Tonti, Teater, Inkai, Taekwondo, Qiro'ah, dan ada lagi tapi saya lupa. :D
melihat ke kertas ekskul itu, saya mantap memilih PMR karena saudara saya lebih tinggi satu kelas juga anggota PMR di sekolah. Terus saya hanya iseng langsung mencontreng Teater. Awalnya hanya main-main dan ikut-ikut teman. Tetapi, pilihan mantap malah saya tinggalkan dan malah menekuni dunia teater. Tuhan itu adalah novelis yang mempunyai sejuta kejutan. Hal-hal yang mustahil menjadi tak mustahil.

Saya menyukai cara Tuhan yang memperbolehkan saya untuk mengenal dan lebih mengenal dunia teater.
Sampai saat ini, saya pun telah mengenalnya. Bahkan telah masuk dalam dunia teater.
Di dunia teater ini, banyak memberi saya pengetahuan dan pengalaman. Meskipun kadang hati merasa berat untuk melakukan. Tetapi, saya tetap bertahan sampai saat ini karena saya melihat binar mata Ibu yang bahagia melihat saya di panggung sandiwara. Meskipun ibu sama sekali belum pernah melihat penampilan, ekspresi, dan acting saya. Tetapi, saat saya membawa hasil jepretan saya dengan teman-teman, ibu sudah memiliki pandangan bagaimana saya di atas panggung. Terlebih jika saya menceritakan bagaimana alur cerita yang saya dan kelompok teater sekolah saya tampilkan. Ibu seolah-olah memiliki gambaran panggung sandiwara klasik di angannya.

Komentar

Postingan Populer