Aku?


Aku? Siapakah aku?

Bodoh! Bahkan aku sendiri tak mengenal siapa diriku. Setahuku, aku adalah seorang makhluk yang beruntung karena masih bisa menikmati oksigen di sini.Aku tak punya mimpi, bahkan harapan. Yang kutahu tentang hal itu adalah semua hanya bayangan semu belaka tanpa kisah nyata.

Seseorang yang kadang kala kehilangan arah. Atau, terkadang tak tahu bagaimana kehidupan selanjutnya selain bangun dari tidur lelapku, pergi sekedar membuang air kencing atau pup-makan-keluar menghirup udara bebas di luar kolong jembatan. Monoton bukan? Tapi aku bisa apa? Aku bahkan tak mempunyai suatu keahlian kecuali berlari dan berteriak. Jujur saja. Aku bahkan pernah mencoba untuk pergi dari sini, selamanya.Tapi itu tak berhasil. Aku sengaja berdiri di tengah jalan raya, menantang mobil merah lengkap dengan sirinenya tak berhasil menghantam tubuhku menjadi potongan daging cincang.Saat itu, aku yang sedang kabur dari rumah karena tak tahan dengan keadaan. Atau, keadaan yang memaksaku untuk lari? Entah aku sendiri juga tak dapat mendefinisikan dengan jelas. Setahuku, keadaan yang memaksaku untuk laridari keadaan yang membuatku tak tahan. Ahh! sangat rumit. Ini membuatku gila.

Aku pria yang selalu dianggap anak kecil oleh Ayahku, yang selalu dijadikan putri kecil oleh Ibuku. Aku benci itu. Bahkan, aku juga benci ketika piring-gelas-kaca jendela bahkan pecah menjadi kepingan mozaik yang terkapar di lantai karena ulah Ayahku. Aku sangat tak menyukai suara itu, suara jeritan Ibu dan suara hantaman itu. Semua membuat gendang telingaku rancu.

Aku tak menyukai keadaanku. Apakah aku dosa, Tuhan? Kurasa,aku adalah seorang pendosa. Tapi, bagaimana dengan Ayahku? Haha.. ayah? Apaaku pantas menyebutnya dengan sebutan ayah? Dia pria berbadan kekar penuh tato di setiap senti tubuhnya. Bibir yang hitam kelam karena sebatang tembakau yang sangat kubenci. Mata merahnya yang tiap kali menatapku tajam. Atau suaranya yang sangat lantang tak sebanding dengan kedua kakinya yang bergelayutan tak berdiri tegak, dengan genggaman botol hijau di tangannya. Pria yang selalu membanting botol bekas yang berbau menyengat dan selalu meneriaki ibuku. Dia juga pendosa.

Aku juga seorang pria. Bahkan kurasa aku lebih baik dari dia. Meski pipi ini sudah kebal dengan tinju dan tamparannya, untuk membela wanita yang sangat aku cintai: Ibuku. Aku tak akan membiarkan satu senti pun kepalan tangannya menyentuh wajah Ibuku. Meski berulang kali Ibu berteriak agar dia berhenti untuk menghantamku, tapi sayang.Ibu terdorong oleh tangan kasarnya. Dan ini membuatku geram. Dengan sekuat tenaga aku membalas kepalan ke wajahnya, tapi karena postur tubuhku yang lebih kecil darinya membuatnya tertawa sinis. Demi seorang wanita yang memerjuangkanku 9 bulan 10 hari, aku akan membalas perbuatannya. Meski Ibu selalu melarangku untuk membenci atau bahkan membalas perbuatannya, tapi itu janjiku dalam hati di depan Ibuku yang sedang tertidur lelap dengan banyak selang disekelilingnya.

Sebenarnya, aku sedikit sakit hati ketika Ibu selalu menganggap bahwa aku adalah putri kecilnya, sejak duduk di bangku sekolah dasar selalu di belai rambutnya, diberi pita, atau bahkan di beri bedak. Hingga aku ditertawakan oleh teman-temanku. Aku malu! Aku malu pada diriku yang selaluterlihat lemah di depan Ibuku, pun sampai sekarang Ibu selalu menganggap bahwa aku ini putrinya. Apakah Ibuku juga seorang pendosa jika dia memerlakukan putranya seperti anak wanita? Kurasa tidak.Ibuku memang berbeda dengan yang lainnya. Dia sedikit aneh yang tiap hari menimang guling sambil menyenandungkan lagu. Ketika aku pulang sekolah, dia membuang guling itu dan berlari ke arahku, memelukku erat dan selalu berbisik “Putri Ibu sudah besar.Cantik, tinggi, putih, ohh.. putri ibu, jangan tinggalkan ibu sendiri ya!”.Kata-kata itu masih terngiang jelas di benakku.


Aku berdiri dengan kaki yang mantap, meski mata ini tak setegar kakiku, tapi setidaknya aku bisa menahan genangan air agar tak tumpah di depan gundukan tanah yang bertabur bunga ini. Aku akan berusaha menjadi putri kecilmu Ibu. Aku akan pergi sebentar untuk mencarikanmu makan, setelah itu, aku akan kembali secepatnya. Aku janji tak akan meninggalkanmu sendiri.

Langkah kakiku gontai, menapaki jalan aspal di kolong jembatan. Seperti biasa, dengan gitar using ini aku melawan keramaian jalan. Aku tersenyum puas, karena ayam goreng dan nasi bungkus sudah berada di tanganku. Dan, kurasa aku sudah lama meninggalkan Ibuku sendiri dalam balutan gundukan tanah. Aku harus pulang. Tapi, sosok anak kecil yang duduk di emperan jalan sembari memeluk lututnya menuntunku untuk mendekat. Pakaiannya sangat tak beratauran,wajahnya kusam,dan matanya sembab. Kupikir, didunia ini hanya aku yang menderita, ternyata dia juga. Aku duduk didekatnya, memulai percakapan singkat. Sekedar menanyakan nama, umur, alamat rumah, sekolah. Dan dia menyambut percakapan secara hangat. Dia Tio,anak yayasan di salah satu panti Asuhan, berumur 10 tahun. Aku jadi ingat,ketika aku berumur 10 tahun, dulu orangtuaku selalu bertanya apa cita-citaku. Dan kujawab, aku belum memikirkan itu. Jawabanku berbeda jauh dengan jawabannya, yang berhasil membuatku menjadi tercekat.

“…lalu, apa cita-citamu?”
“Aku ingin menjadi seperti Yesus”
“Mengapa? Bukankah Ia rela di paku demi keselamatan umatnya? Kamu mau berakhir seperti itu?”
“Setidaknya Beliau mempunyai orang tua, Beliau sempat merasakankasih sayang orang tuanya, sedangkan aku tidak.”

Aku merasakan genangan air mata ini siap untuk menjadi aliran sungai. Sungguh, kata-katanya membuatku tercekat. Bahkan, dia ingin memiliki orang tua, ia ingin merasakan bagaimana perhatian dari Ayah dan Ibu. Aku tak tahu harus menjawab bagaimana, aku sungguh tak kuasa untuk merangkai kata-kata lagi. Skakmat! Dia mengunci pita suaraku, hingga aku dapat memutar klise film dalam ingatanku. Semua tentang Ayah dan Ibu.

Setidaknya, aku pernah merasakan perhatian dari Ayah dan Ibu. Aku pernah merasakan belai lembut kasih mereka. Aku pernah menjadi kesayangan mereka. Aku pernah merasakan menjadi seorang anak dari mereka. Dari gumpalan darah, hingga tumbuh seperti ini dengan dedikasi dan cinta mereka. Meskipun,pada akhirnya aku harus merasakan kepahitan dalam manisnya kehidupan diantara mereka. Sedangkan anak ini, dia tak pernah merasakan kesempatan tumbuh besar diantara Ayah dan Ibu. Sungguh, aku merasa bahwa aku-----lebih beruntung daripada dia. Tuhan, maafkan makhluk yang sering kali menyebut dirinya sebagai makhluk pendosa ini. Maafkan aku… Ayah Ibu.. Terima kasih, aku mencintaimu..

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer