Cause Of You
|
Seru
gadis berambut pirang seusai memainkan kuasnya. Berhenti sejenak, menghirup
udara senja di tepi pantai Jogjakarta. Mengintip mentari yang mulai menyurut di
balik biru khatulistiwa. Senyumnya mengembang puas memandangi goresan cat air
di hamparan kain putih yang kini terukir indah.
Gadis
itu memejamkan mata menikmati deburan ombak, bisikan angin dan aroma garam yang
berkolaborasi dengan sempurna. Meski langit berubah petang, Tetap tak
menggoyahkannya dari bangku kayu di bawah pohon kelapa. Perlahan kepalanya
mengangguk pelan, kakinya terhentak pelan ke tanah, seperti terbuai oleh
bisikan alam.
“Alunan
yang sangat indah” Senyumnya tersimpul indah.
Gadis
itu perlahan membuka mata. Sudut matanya menelisik ke seluruh arah. Gadis itu
mendecak pelan karena tak menemukan apa yang dicarinya. Tiba-tiba gadis itu
menengadahkan kepala, melotot tak percaya senja telah menjadi kelam. Dia
tergopoh-gopoh membereskan semua alat lukisnya dan bergegas pergi. Langkah
kakinya terhenti oleh sebuah alunan klasik. Ia memejamkan mata dan membiarkan
inderanya menuntunnya pada asal alunan itu. Langkahnya terhenti tepat di
belakang seorang pria yang tengah duduk bersandar di bawah pohon kelapa. Gadis
itu membuka mata dan tersenyum manis karena telah menemukan asal alunan klasik
itu. Matanya berbinar memandang sosok pria yang tengah memainkan sebuah alat
musik tiup dengan lihai. Kepalanya mengangguk-angguk, kakinya terhentak
perlahan seiring alunan musik klasik dari pria itu.
“Hei
Deby!!”
Gadis
itu menoleh ke belakang merasa seseorang memanggil namanya.
“Cepat
pulang, kak Deby!” Teriak gadis kecil yang berada di seberang. “Aku sudah
terlalu lama menunggumu di mobil!” Lanjutnya.
Pria
itu berhenti memainkan jemarinya. Membuka perlahan kedua matanya yang terpejam
saat merangkai alunan musik di udara. Sudut matanya ia buang ke segala arah,
mencari sesuatu.
“Tak
ada siapa-siapa.” Gumamnya heran.
Di
balkon kamar, Deby asyik memainkan kuasnya. Mengisi lembaran kosong di depan
mata indahnya. Berhenti sejenak, mengamati hasil lukisannya. Senyumnya
tersimpul indah, matanya berbinar.
“Satu
goresan lagi.” Gumamnya.
“Selesai.” Seru Deby bersemangat menatap sosok pria berkaos putih yang bersandar
di bawah pohon kelapa dan sebuah alat musik tiup di tangannya. “Permainanmu
sungguh luar biasa. Aku berharap kita dapat bertemu lagi.” Kata Deby dalam
hati.
Embusan
angin mencumbu bulu kudu pria yang sedang duduk di balkon kamarnya. Mengamati
kendaraan yang berlalu-lalang di bawahnya. Sesekali ia membuang bola matanya
pada ribuan bintang di awan hitam. “Aku akan menjadi pemain bassoon seperti yang kauinginkan, Ibu.”
Gumamnya perlahan.
Deby
membawa lukisan itu dan menggantungnya di dinding kamarnya. Senyumnya selalu
tersimpul indah setiap ia memandangi lukisannya. Mungkin, lebih tepatnya pada
sosok dalam lukisannya. Deby berjalan keluar dan menengadahkan kepalanya.
“Ayah, aku menemukanmu pada sosok pria yang tadi kutemui.” Gumam Deby pada
bintang-bintang yang bertaburan.
Langit
hitam, bertaburan bintang yang bersinar redup, dan embusan angin menemani malam
Deby dan Pria itu. Dua bulan berlalu cepat. Hampir setiap hari Deby sengaja pergi
ke pantai, berharap hal yang sama: bertemu pria itu. Pria dengan alat musik
klasik di tangannya. Pria dengan alunan musik indah yang terbang di udara dan
terekam sempurna di gendang telinga Deby dan hatinya. Ia tak mengerti apa yang
sedang menyelubungi dirinya. Sepeninggal ayahnya, ia menjadi pemurung dan tak
bersemangat untuk hidup. Melukis, hanya hal itu yang selalu ia lakukan.
Menghabiskan cat air dan mencorat-coret kanvas, lalu menggantungnya di dinding
kamarnya hingga tak menyisakan celah. Sampai akhirnya ia kembali hidup ketika
ia mendengar alunan indah yang dirangkai pria itu. Mengingatkan kembali tentang
ayahnya. Ayah Deby adalah seorang pemain contrabassoon.
Sesekali ia memejamkan mata, maka sosok pria dengan alat musik klasik: bassoon itu tergambar jelas. Dan saat
itu pula, sosok ayahnya tersenyum memandangi Deby dalam pejaman matanya. Ia
merindukkan ayahnya, merindukan alunan musik klasik pria itu.
“Sudah
siap, Tom?”
Pria
itu mengangguk mantap. Sahabatnya memberikan semangat padanya di balik
panggung.
“Tunjukkan
kharismamu dan taklukkan ribuan gadis yang ada di kursi penonton, Tomi!” Pria
itu tersenyum sambil mengerlingkan matanya.
“Siapkan
tepukkan tanganmu di sana.” Seru Tomi bersemangat.
Tomi
dan sahabatnya tertawa bersama. Kali ini, ia bersiap. Dengan dasi kupu-kupu,
kemeja putih, jas hitam, celana hitam, dan sepatu mengilat memerindah tubuh
Tomi. Tomi bersiap dan berjalan menuju panggung.
“Malam
ini tunjukkan aksi kita, sayangku.” Ucap Tomi pada alat musik klasik di
tangannya:
bassoon.
Nama
Tomi telah terseruak di bangku penonton. Suara tepuk tangan yang renyah
menyambut Tomi di atas panggung. Senyum Tomi tersimpul, dan sekarang ia
memainkan alunan lembut yang ia rangkai di partitur. Ini, lagu Tomi untuk
Ibunya. Suara tepuk tangan mengaum hebat di gedung pertunjukan Concert Hall
Taman Budaya. Tomi tersenyum puas dan membungkukkan badan.
Deby
tercengang mendengar alunan musik yang ia kenali. “Aku menemukanmu” Gumam Deby
dalam hati. Ia tak menyangka, jika tangan Tuhan mengabulkan doanya. Ia berdiri
dari bangkunya dan memberikan aplous
pada pria yang ia temui di bawah pohon kelapa. Matanya berbinar, air mata
menetes perlahan di pipinya. Ia tertegun pada pertemuan keduanya dengan pria
itu. Di pertunjukkan orchestra. “Aku
sangat berterima kasih padamu Cika atas tiket yang kauberikan” Gumam Deby dalam hati.
Tomi
menegakkan tubuhnya kembali, menatap ke bangku penonton. Matanya bertemu dengan
mata seorang gadis yang berkaca-kaca. Deby yang berdiri di barisan paling depan
sangat gugup. Ia merasa ada getaran hebat dalam jantungnya kala matanya
tertahan mata pria itu, Tomi. Deby menyunggingkan senyum, dan Tomi membalasnya.
Seusai
pertunjukkan, Deby berdiri di dekat gerbang. Menunggu mobilnya menjemput.
Berulang kali ia mengirim pesan pada Cika, adiknya. Tapi tak ada balasan. Tomi
yang berdiri di belakang Deby berjalan mendekat.
“Hai..”
Seru Tomi
Deby
menoleh ke belakang. Jantungnya berdegup kencang, ia merasakan getaran itu
menghujam tubuhnya lagi. Ia memejamkan matanya dan membukanya lagi. Ini bukan
mimpi. Deby berada beberapa senti dari pria itu. Tomi tersenyum pada Deby dan
Deby membalasnya.
“Permainanmu
sungguh luar biasa.” Deby membuka suara. “Lagu yang sama ketika di bawah pohon
kelapa.” Ucap Deby.
“Pohon
kelapa?”
“Maaf,
aku pernah mendengarnya petang itu.”
Tomi
tertawa kecil. “Oh, jadi itu adalah kau?”
Sontak
Deby tertegun. Pipinya merah merona. Tomi tertawa kecil, memijat perlahan
tengkuknya. Tomi tak menyangka ternyata feelingnya
beberapa bulan yang lalu benar. Ia merasakan bahwa ia tak sendiri di sana. Dan,
dewi fortuna memihak pada mereka. Memertemukan mereka untuk kedua kalinya.
“Aku
Tomi”
“Deby..”
Setelah
perkenalan itu, Deby berubah lebih hidup. Ia tak lagi merasa terpuruk. Terlebih
karena ada Tomi yang mengisi hari-harinya. Menemaninya, dan menjadi
inspirasinya. Kanvas-kanvasnya penuh dengan sosok Tomi dan bassoonnya. Begitu juga dengan Tomi, ia lebih bersemangat meraih
impian Ibunya. Deby menjadi sumber inspirasi Tomi menciptakan nada-nada indah
dalam partiturnya.
Deby
membentengi perasaannya pada Tomi. Jujur, ini sangat menyiksa bagi Deby. Ia
tahu, ia menyukai pria itu sejak alunan musik di bawah pohon kelapa
membangkitkan nyawanya (lagi). Tapi, dia tak mengerti apakah Tomi juga
mempunyai perasaan yang sama pada Deby?
Deby tak berani mengungkapkan perasaannya pada Tomi. Ia akan menunggu,
sampai keajaiban tangan Tuhan menjentikkan cerita pada kisahnya.
Kedekatan
Tomi dan Deby membentuk sebuah cerita yang indah, meski belum pasti status
mereka yang sebenarnya selain teman dan sahabat. Deby selalu hadir dan duduk di
kursi paling depan ketika Tomi berpartisipasi dalam pertunjukkan musik,
memberikan tepuk tangan, rangkaian bunga, semangat, dan pelukan hangat seusai
Tomi beraksi dengan bassoonnya. Nama Deby selalu
terdaftar dalam nama seniman yang turut memersembahkan karyanya dalam pameran
lukisan. Tomi, selalu hadir,
menemani Deby, memberi semangat pada Deby, dan memberikan kecupan di kening
Deby. Mereka bersahabat, tapi hati mereka tak ada yang tahu. Mungkin, pelukan
dan kecupan tanda persahabatan. Atau, pelukan dan kecupan yang terselip tentang
perasaan hati.
Mereka
bermonolog pada pikiran mereka masing-masing. Menemukan jawaban dari semua
tanya. Cinta itu penuh tanya dan selalu ada jawaban meski itu rahasia.
Tomi
mendapat kesempatan terbang ke Beijing, Cina utnuk menampilkan pertunjukkan
musiknya. Perpisahan mereka terhenti di bandara Adi Sucipto. Deby meneteskan
air matanya. Tomi memeluk erat tubuh mungil Deby. Seolah tak ingin jauh dari
Deby. Punggung Tomi membias di bola mata coklat Deby. “Tampilkan yang terbaik,
Tom.” Deby berkata lirih.
Tiga
hari berlalu, Deby menghabiskan waktu di Jogja tanpa Tomi. Dalam hatinya,
apakah Tomi merindukannya? Sama seperti Deby merindukannya? Deby berada di
balkon rumah, menengadahkan kepala berdialog pada bintang. “Apakah bintang di
Beijing, sama seperti bintang di Jogja, Tom?”
Seusai
latihan, Tomi berjalan-jalan keluar, sekedar menikmati suasana malam Beijing.
“Di sini musim salju, tapi bintang di langit Beijing masih terlihat terang.
Apakah di Jogja juga terlihat bersinar, Deby?”
Hari
ke tujuh Tomi di Beijing. Ini adalah waktunya pertunjukkan. Tomi sudah berada
di panggung. Melempar pandangannya pada kursi depan tempat biasanya sosok Deby
duduk melihat aksinya. Tomi meyakinkan dirinya sendiri. Ini di Beijing, bukan
di Jogja. Dan kali ini, Tomi harus menerima bahwa Deby tak dapat memberikan
semangat pada Tomi (di sini).
“Lagu
ini, saya ciptakan untuk gadis yang menginspirasi setiap nada dalam lembar
partitur hampa. Gadis yang memberikan semangat, untuk terus meraih mimpi hingga
di Negeri ini. Tapi, jarak sedang melaksanakan tugasnya. Memisahkan kami dalam negeri
yang berbeda. Dia menyapaku dan melepasku terbang dengan air mata. Pertemuan
yang sangat istemewa. Dan.. aku menyayangi gadis itu.” Kata Tomi di depan mikrophone. “Ini lagu untukmu Deby.”
Lanjutnya.
Tomi
memainkan lagu ciptaannya yang berjudul Cause of You. Dia menulis lagu ini
karena sosok Deby. Saat memainkan lagunya dalam keadaan terpejam. Air matanya
membasahi pelupuk matanya. Saat ini, Tomi benar-benar merindukan Deby. Tepuk
tangan menyeruak di gedung pertunjukkan Beijing. Tomi membungkukkan badan
memberikan hormat.
Deby
berlari menuju pintu utama gedung pertunjukkan. Langkah kakinya gontai memasuki
gedung yang telah sesak terpenuhi orang-orang penikmat musik. Ia tak dapat
berdiri atau duduk lebih dekat dengan panggung. Deby menghela napas panjang,
karena belum tertinggal pertunjukkan musik ini. Tiba-tiba Deby tertegun
mendengar suara seorang pria. “Tomi.” Serunya dalam hari.
Deby
mengenali suara pria itu, meski dalam bahasa
Inggris. Ia berusaha untuk melihat lebih dekat
Tomi di atas panggung Beijing. Tapi ia tak dapat bergerak karena dia berada di
belakang. Air mata Deby mengalir semakin deras saat mendengar pengakuan Tomi
dan ketika Tomi memainkan bassoonnya.
Mendengar pengakuan Tomi di depan para ribuan penonton, Deby menahan isakan. Ia
benar-benar tahu bahwa dirinya menyayangi Tomi. Deby yang sedari tadi berdiri
di celah-celah kursi penonton, lalu menerobos kerumunan orang-orang dan berlari
ke atas panggung.
“Deby..”
Seru lirih Tomi saat melihat sosok gadis yang sangat ia rindukan berlari ke
arahnya.
Deby
tak menggubris orang-orang yang berada di barisan penonton. Yang ia tahu, ia
berada di tempat yang benar. Ia berlari dan menghampiri Tomi di atas panggung.
Ia bahkan tak merasa malu karena pertunjukkan ini terhenti dan perhatian ribuan
penonton tertuju padanya. Deby merengkuh tubuh Tomi. Berjinjit sedikit dan
memelukknya erat.
“Aku
tak bisa jauh darimu, Tom.”
“Aku
menyayangimu, Deb”
“Aku
sangat... sangat... menyayangimu.”
Tomi
mencium pucuk kepala Deby. Lalu mencium kening Deby. Bola mata mereka bertemu.
Senyum dibibir mereka tersimpul sangat indah. Mata mereka berbinar. Tomi
merengkuh tubuh Deby dan memeluknya lagi.
Tepuk
tangan penonton menyeruak di gedung pertunjukkan musik ini. Mereka merasa
tersuguh pemandangan yang sangat romantis. Bukan hanya kisah yang tertuang
dalam alunan musik, melainkan kisah yang tergambar jelas seperti drama musical. Dan tentang cinta yang penuh
tanya, mungkin ini adalah jawabannya.
It's me, aku terharu membaca semua ini :')
BalasHapusHalo kak, maaf atas keterlambatan dalam merespon ehehe sudah lama nggak update di blog.
HapusOh hi! btw dari mana tahu tulisan ini? hihi maaf ya, aku bikin tulisan tentang 2 tokoh ini udah dari dulu sih, dari curhatan temen wkwk cuma beberapa alur aku buat sendiri. terima kasih sudah mampir ke sini.