Luka Di sini
- Biarkan berlalu rasa cinta ini di hati, ku tak bisa tuk menahan aku luka di sini - Ungu
Aku memutar otakku ke memori yang (hampir) ku hapus. Menatap mozaik-mozaik coretan di kanvas yang belum ku selesaikan. Aku menatap lukisan itu, leburan air menetes perlahan di pipiku. Aku menepis semua perasaan yang dulu ada diantara kita. Sebening embun di cerlap sinar mentari. Secercah pelangi di atmosfer kelabu. Atau sepekat kilat pencakar langit. Semua berkolaborasi di dalam pikiran dan hatiku. Aku ingin kamu tahu, aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan. Seperti ini. Terhempas di lautan karang. Tergores samurai dengan garang atau bahkan seperti berjalan di ribuan arang.
Mungkin aku sedikit memakai perasaanku dalam mengartikan ini semua, tidak seperti kamu;dengan logika. Tapi inilah yang aku rasakan. Kamu tak tahu bagaimana aku, tapi mengapa kamu seolah-olah tahu seperti apa aku. Kamu takmengerti aku, tapi mengapa kamu seolah-olah berarti di hidupku. Iya. Mungkin itu dulu. Dulu sebelum kamu meninggalkan sayatan pedang dan tusukan ribuan pecahan kaca. Atau, sebelum kamu menghilangkan beberapa keping debu diantara pasir. Kamu membuatku bingung. Sikapmu yang seolah-olah tak perduli padaku, padahal kamu jelas-jelas tahu keadaanku. Seolah-olah kamu tak mengganggap aku ada, padahal kamu jelas-jelas melihatku. Atau ketika kamu seolah-olah tak pernah mengingat semua cerita tentang kita. Haha… begitu mudahnya semua hilang dalam ingatanmu;seperti meniup debu di lautan.
Sebegitu tak berartinya kah aku di dalam alur kehidupanmu? Tapi, dulu kita menjadi pemeran utama dalam sebuah film pendek yang menceritakan tentang cinta, dan sayang. Tapi sekarang? Kurasa kisah itu sudah menjadi sejarah. Iya, sejarah tentangkita. Mm… maaf, tentang aku dan kamu ketika dulu menjadi kita. Karena sekarang, tak akan ada lagi kisah itu. Adegan demi adegan yang sempat kita perjuangkan bersama. Iya! Itu hanya adegan dalam sebuah film pendek; tentang kita yang tak jelas bagaimana endingnya. Tak lebih.
Kita;aku dan kamu. Itu dulu. Sekarang, cukup aku dan kamu tanpa kita. Kurasa, ini yang terbaik untuk aku dan kamu. Aku tak ingin mengingatnya lagi setelah kamu menghilang, dan meninggalkan aku dengan harapan-harapan bodohmu. Tidak! Aku yang bodoh, karena terlalu berpikir bahwa harapanmu itu akan menjadi nyata seperti janjimu yang tak akan meniadakan lagi keraguan dan tak akan menelantarkan perasaan ‘kita’ begitu saja. Tapi nyatanya, harapan itu tinggallah harapan tentang masa depan tanpa tindakan. Haha.. itu kelemahan wanita.Selalu di bawa ke perasaan.
Aku,hanya bisa memandangimu dari kejauhan. Di taman yang biasanya kita makan eskrim bersama, duduk di bawah pohon. Kamu dengan gitarmu dan aku dengan buku gambarku. Aku menyukai saat-saat itu. Saat di mana kamu menyanyikan lagu untukku dan aku menjadikanmu sebagai model lukisanku. Tapi itu dulu. Sebelum kamu menghianati ‘kita’. Sebelum kamu sibuk menelantarkan gitarmu demi ponselmu. Kamu seperti orang kesetanan. Tertawa, tersenyum, bahkan kamu menjadi berubah. Kamu tak menganggapku ada ketika kita bersama. Kamu sibuk denganponselmu. Apakah di sana kamu sedang bercanda dengan gadis lain? Atau kamusedang berusaha mendekati gadis lain? Iya! Kamu asyik dengan ponsel dan gadis barumu itu. Aku tidak apa-apa, karena aku tahu dari temanku. Dia menceritakan banyak tentang kamu, tentang kedekatanmu dengan gadis itu dan tentang makan malammu dengan gadis itu. Aku tahu jika gadis yang kamu kencani dalam ponselmu itu adalah temanku sendiri.
Aku tidak apa-apa jika kamu tidak pernah menceritakan padanya tentang ‘kita’. Aku tidak apa-apa ketika kamu tidak menganggap ‘dia gadisku’ di depan teman-temanku. Iya! Selama ini kita main belakang, dan untungnya tak ada yang tahu tentang ‘kita’. Tak ada yang tahu betapa sakitnya menjadi gadis yang tak kamu anggap di depan. Setelah kejadian itu, aku sengaja bercerita tentang hoby jelekku, keburukanku masa kecil, tentang sikapku yang belum sepenuhnya kamu tahu; agar kamu segera meninggalkan aku. Aku tak akan meninggalkan sebelum ditinggalkan. Tapi nyatanya? Kamu tidak peka. Kamu membiarkan ‘kita’ tergelantung bebas di atmosfer.
Aku sudah membaca perubahan sikapmu ketika kita terakhir bertemu, dan aku tahu itu.Kamu menginginkan perpisahan. Memberi ruang pada jarak untuk menjadi pagar pembatas diantara kita. Dan.. Aku yang mundur. Ini demi aku, demi kamu, tak ada lagi kita. Aku baik-baik saja.
Aku sudah berusaha melupakan. Dan sejauh ini, aku berhasil.Tapi, mengapa kamu datang dan tanyakan tentang perasaan yang seperti dulu padaku. Oh, apakah ada penyesalan atau karena karma berhasil mengutukmu? Haha…Tak ada dulu di waktu sekarang. Jangan kau ungkit lagi tentang masa lalu.Biarkan berlalu, karena tak ada yang tahu dan aku tak ingin kamu tahu aku luka di sini atau jika kita lanjutkan adegan film pendek tentang ‘kita’ lagi, aku tak ingin menjadi pemeran utamanya. Kamu tetap menjadi tokoh utama pria dan kehampaan menjadi tokoh utama wanitanya; menggantikan aku dan gadis ponselmu itu. Ku rasa, dia lebih memahamimu dibanding aku. Dan, aku akan memilih menjadi pemain figuran yang tak banyak memainkan peran dan perasaan, aku tak bisa untuk terus-menerus menahan----aku luka di sini; di hatiku. Biarkan aku pergi. :)
Komentar
Posting Komentar