Tersimpan

Untuk teman (hati)ku

Mm.. hai..
Iya! satu kata yang mampu keluar dari pita suaraku---lirih. Jujur, aku ingin menyapamu dari dekat, tapi aku tak mampu. Hanya seperti ini, aku duduk manis memerhatikanmu di PC komputerku. Seketika itu, aku melihat senyummu yang merekah indah, membuatku merah merona. Kamu manis, bahkan aku dapat merasakan getaran hebat di dadaku ketika melihatmu seperti itu. Aku terpaku, ketika mata coklat itu tertuju pada bola mataku; kita saling menatap tapi tak saling memandang lebih dekat.

Halo..
Kini ku ucapkan lagi dengan sedikit mantap. Masih sama, di depan layar PC komputerku. Aku suka memerhatikanmu dengan cara seperti ini. Aku menyukai setiap jentikkan jemariku menulis namamu. Aku menyukai setiap kali mata kita bertemu; dan kamu tersenyum padaku. Entah, kupikir aku gila. Kurasa, kamu tak hanya tersenyum padaku; tapi pada semua teman-teman dan orang yang kamu temui. Kamu periang. Kamu ceria. Bahkan kamu konyol. Aku menyukai semua seperti apa 'kamu' dalam koleksi fotomu. Ku rasa, kini aku benar-benar gila.

Hai.. kita bertemu lagi..
Kali ini aku mengucapkan dengan mantap. Ketika sajakmu, jentikan jemarimu muncul di berandaku. Kamu tahu? Aku bahagia. Karena, kali ini kamu benar-benar ada. Perasaanku yang hebat seperti kembang api, menuntunku untuk menjetikkan jemariku menari di atas keyboard, tapi... aku gusar untuk menekan tombol enter. Aku... Mmm.. mungkin sebaiknya kamu tak mengetahui siapa aku, seperti apa diriku, dan bagaimana aku mulai menjadi penguntitmu.
Aku rasa, aku akan tetap seperti ini, YA! menyukaimu dalam diam dan terpisah oleh jarak.
Menguntit semua kegiatanmu, kesukaanmu, semua informasi tentangmu.
Aku pernah berharap jika suatu saat aku dapat bertemu denganmu; di dunia nyata. Melihat senyum indahmu, menatap mata coklat itu, makan es krim bersama seperti dalam koleksi fotomu, atau berjalan-jalan sekedar ngobrol biasa seperti yang kamu lakukan dengan teman-temanmu sekarang (dan dulu). Tapi, aku sadar diri. Aku tak bisa memaksakan kehendakku.

Halo, apa kabar?
Jujur. Dalam hati, aku (ingin) mengatakan itu! Ketika aku tahu keadaanmu sedang gundah, sedih, atau bahkan sakit. Aku ingin tahu bagaimana kamu. Tapi.. sudahlah.. aku tak mampu. Aku hanya dapat menulis semua perasaanku dalam sajak-sajak bodohku. Maaf, jika ini membuat berandamu sesak; tapi beginilah caraku agar kamu tahu 'aku'. Aku senang, ketika namamu muncul di pemberitahuanku. Meski hanya sekedar menyukai apa yang aku tulis. Tapi, setidaknya aku tahu jika kamu membaca sajak yang aku tulis untukmu.
Jujur saja. Aku sangat senang. Setiap detik yang ku habiskan di depan PC komputerku. Bodoh bukan? Menunggu ketidakpastian. Tapi aku tahu apa yang aku tunggu. Dan aku pastikan itu kamu. Jadi, masihkah ada kalimat ketidakpastian lagi? Hahah.. sangat konyol.

Gadis, aku tahu benar siapa namamu. Tapi aku lebih suka menyebutmu dengan sebutan itu. Karena aku sadar, kita takkan pernah bisa bertemu (lagi) secara langsung. Jadi izinkan aku menyebutmu dengan nama itu. Esok, jika kita benar-benar bertemu, maka aku akan mengganti nama itu dengan namamu. Nama yang jelas-jelas adalah namamu di dunia nyata.

Sekali lagi. Dalam keadaan apapun, di sela-sela aktivitasku, aku bisa memerhatikanmu. Biar ku perjelas. Kali ini aku sedang duduk manis di warung susu menatap ponsel di tanganku. Aku berharap kamu membaca pesanku. Sekarang, aku benar-benar menekan tombol enter. Dan lagi, getaran dahsyat ini menghujam dadaku. Ketika kamu membalas pesanku. Sungguh, aku senang meski kamu hanya membalas dengan simbol '?'. Kamu masih sama.
Aku takkan berhenti untuk menjadi lebih dekat denganmu.
Hari berikutnya, aku cepat-cepat menuju tempat yang kamu jadikan status; warung makan jepang. Dan, aku sedang duduk menunggu balasan pesanmu. Benar! Kamu benar-benar di sini.
Aku memerhatikan ke sekeliling, mencari sosokmu. Sangat konyol bukan? Berharap aku akan bertemu denganmu di sini. Tapi tak ku temui sosokmu yang seperti di dalam koleksi fotomu, yang seperti dalam ingatanku. Aku menyerah! Ternyata, dunia maya itu takkan pernah bisa menuntun ke dunia nyata.
Aku menunduk dan mengaduk kasar ramen yang terhidang di hadapanku.

"Hai"
Aku menenangkan pikiranku. Kali ini, bukan hatiku yang berbicara. Bukan juga pikiranku yang ingin mengatakan kata itu. Jelas sekali bahwa ini bukan suaraku. Aku mendongakkan kepala, dan saat itu getaran ini semakin kuat. Apakah ini nyata? Bukankah baru tadi aku mengatakan bahwa dunia maya itu takkan pernah bisa menuntun ke dunia nyata. Tapi, mata coklat itu benar-benar menghipnotisku. Dan dia benar-benar ada.
Senyum itu, tatapan mata itu, dan ini nyata. Kamu masih sama.

Sejak pertemuan itu, aku dan kamu semakin dekat. Dan ini membuatku kembali hidup. Meski banyak teman wanita di jejaring sosialku, tapi hanya kamu orang pertama yang mampu menghipnotisku hingga aku menggilaimu seperti ini.
Aku tahu, kita hanya berteman dan hanya teman. Aku pernah berharap agar kamu tahu perasaanku, tahu bagaimana aku mencarimu, bagaimana aku bisa seperti ini. Memang cukup lama. Aku menjadi penguntitmu. Sejak kita duduk di bangku SMP kelas 1. Waktu itu kita satu sekolah, dan aku mulai memerhatikanmu ketika aku dan kamu bertemu di halaman sekolah. Kamu berada di barisan paduan suara, dan aku di barisan seberangmu. Jika dihitung sampai sekarang, waktu yang ku lewati untuk menjadi dekat denganmu adalah 6 tahun 6 bulan 21 hari. Bukan waktu yang singkat untuk mengetahui bahwa getaran hati ini karena kamu.
Meskipun kita pernah satu kelas, tapi di depanmu aku berusaha menyembunyikan perasaanku. Aku tak mau kamu mengenal aku sebelum kamu tahu perjuanganku memertahankan kamu di sini. Di hatiku.
Kamu tahu? Setelah kelulusan, aku tak tahu bagaimana kamu, keadaanmu, dan senyummu. Semua hilang begitu saja. Tapi aku tak bisa menghapusmu. Jujur saja, aku masih ingat jelas bagaimana senyummu itu merekah dengan indahnya. Sampai akhirnya, aku mencarimu di dunia maya. Dan kita bertemu lagi.

Aku, akan tetap menjadi penguntitmu. Entah sampai kapanpun itu. Aku akan menjadi penguntitmu----dalam diam. Meski kadang terasa sesak ketika kamu menulis sajak untuk pria lain, bukan untukku. Tapi, aku sadar diri. Bukankah aku sudah mengatakan ini berkali-kali?
Aku menyukai setiap waktu di antara kita. Pertemanan kita dan kedekatan kita.
Aku dan kamu adalah teman. Di dunia maya, dan dunia nyata setelah jarak kembali memertemukan kita.
Aku senang akan selalu bahagia menjadi temanmu. Karena dengan cara seperti ini aku bisa dekat denganmu. Aku takkan mengatakan perasaanku, karena aku tahu itu akan merusak ikatan pertemanan kita, keadaan bisa berubah, dan kamu bisa menghilang begitu saja. Aku tak mau itu terjadi. Apakah aku egois? Kurasa sedikit. Aku mementingkan kita dari pada aku dan kamu. Aku lebih menyukai kita dari pada aku tanpa kamu. Maka, tetaplah menjadi temanku, dan teman hatiku.
Aku baik-baik saja.


Dari penguntit setiamu.

Komentar

Postingan Populer